Oleh Nazamuddin
PEMIMPIN Aceh boleh silih berganti, tapi ekonomi Aceh sudah sampai di
mana? Kemanakah ekonomi Aceh akan menuju. Apa rancangan strategis yang
sudah dipikirkan, sehingga pembangunan ekonomi Aceh tidak terperangkap
dalam pandangan myopik, perencanaan sepotong-sepotong dan pada akhirnya
tidak sampai ke mana-mana.
Rekonstruksi ekonomi Aceh pascabencana
tsunami 2004 telah berhasil meletakkan landasan penting untuk
kelangsungan pembangunan ekonomi jangka panjang. Ini dimungkinkan dengan
mengalirnya dana dalam jumlah yang substansial ke dalam perekonomian
Aceh, baik dalam bentuk bantuan kemanusiaan maupun bantuan yang sifatnya
lebih strategis seperti program-program pemberdayaan ekonomi melalui
fasilitas pembiayaan pembangunan ekonomi (EDFF) oleh Multi Donor Fund
(MDF) dan lembaga-lembaga donor lain. Pemerintah Aceh sendiri melalui
dana otonomi khusus telah membangunan infrastruktur yang semakin baik.
Perbaikan
infrastruktur pascarekonstruksi terjadi di banyak tempat,
bangunan-bangunan perkantoran modern dan bisnis tampak di banyak sudut
kota. Konsumsi masyarakat meningkat. Seperti yang dilaporkan laporan
analisa Bappeda dan Bank Dunia, tampak ada kecenderungan meningkat dalam
persentase pengeluaran konsumsi dalam PDRB Aceh. Bahkan pada 2010
pengeluaran konsumsi mencapai 60%, sehingga pengeluaran konsumsi menjadi
motor penggerak ekonomi melalui naiknya permintaan agregat. Sekaligus
ini indikasi meningkatnya taraf kehidupan masyarakat secara rata-rata.
Pascarekonstruksi,
tidak saja pencaharian penduduk Aceh bangkit kembali, melainkan juga
kemarakan kehidupan ekonomi tampak di mana-mana, terlebih di wilayah
perkotaan. Suasana damai memberi kontribusi besar dalam hal ini. Kini
pertanyaan berikutnya muncul, apakah momentum ini dapat dipertahankan
dan apakah pertumbuhan dapat dipacu lebih besar lagi? Triliunan rupiah
telah dicurahkan ke dalam perekonomian Aceh baik oleh pemerintah
Indonesia sendiri maupun oleh negara-negara donor sejak 2005 hingga
sekarang. Dampak penting dari capital inflow tersebut adalah
meningkatnya pertumbuhan ekonomi, menurunnya angka kemiskinan dan
pengangguran.
Pertumbuhan ekonomi
Pertumbuhan ekonomi
Aceh mencapai puncaknya pada 2006-2007, kemudian turun pada 2008 tapi
menanjak kembali setelah itu. Beberapa tahun terakhir pertumbuhan
ekonomi telah melampau 5% per tahun. Sekarang pertanyaannya adalah
bagaimana mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi lagi. Pendapatan
per kapita juga masih relatif rendah. Pendapatan per kapita yang diukur
dengan PDRB nonmigas per penduduk masih berada pada kisaran Rp 6,4 juta
pada 2010. Kendati angka ini meningkat dari tahun ke tahun, tapi
pertumbuhannya lamban. Ini berkaitan langsung dengan produktivitas
masyarakat.
Karena itu pengurangan angka kemiskinan belum dapat
diraih secara signifikan. Masih diperlukan upaya besar dan tepat sasaran
dalam pertumbuhan ekonomi sehingga produktivitas riil masyarakat
benar-benar meningkat dan taraf hidup membaik. Memang Aceh selama
beberapa tahun terakhir terus mengalami pertumbuhan ekonomi yang
positif. Namun sektor-sektor ini adalah sektor derivatif. Sektor riil
sendiri, khususnya pertanian, hanya tumbuh 5 persen, suatu angka
pertumbuhan yang belum cukup untuk mengurangi kemiskinan dan
pengangguran secara lebih drastis.
Persentase penduduk miskin
(penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Aceh hingga akhir
2011 masih sekitar 19 persen. Kendati angka kemiskinan terus menurun
dari tahun ke tahun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan angka
kemiskinan rata-rata Indonesia sekitar 17 persen. Namun, Indeks
Kedalaman Kemiskinan memperlihatkan bahwa ketimpangan pengeluaran
antarpenduduk miskin sendiri semakin menyempit. Angka kemiskinan telah
turun dari 28,28% pada tahun 2006 menjadi hanya 19,5% pada akhir 2011.
Namun
demikian, persentase penduduk miskin Aceh masih relatif tinggi
dibandingkan dengan Sumatera Utara 11,31 % atau Indonesia 13,33%. Angka
pengangguran telah turun menjadi hanya sekitar 7% pada 2011. Tapi
penting diingat bahwa tingkat pengangguran tertinggi di Aceh terdiri
dari penduduk yang menyelesaikan pendidikan menengah atas (SLTA). Hal
ini dapat terjadi karena kebanyakan dari mereka adalah lulusan sekolah
menengah yang tidak memiliki keterampilan untuk memasuki dunia kerja.
Secara
umum, perekonomian Aceh masih didominasi sektor primer, termasuk yang
akhir-akhir berkembang pesat, yaitu pertambangan. Sayangnya sektor
pertambangan sangat kontroversial karena selain tidak menciptakan banyak
tenaga kerja dan kurang keterkaitan input-output dengan kegiatan
ekonomi rakyat, kegiatan pertambangan juga sering merusak lingkungan.
Maka, sektor pertanian dalam arti luas yang termasuk perkebunan dan
perikanan merupakan potensi yang dapat dikembangkan hingga skala ekonomi
yang besar.
Beberapa komoditas penting di sektor pertanian dan
perkebunan belum berkembang baik, di antaranya yang sangat potensial
adalah beras, kedelai, kopi dan kakao. Produksi setiap tahun lebih besar
daripada konsumsi dan mempunyai potensi ekspor yang prospektif. Hanya
saja produksi komoditas ini masih dalam skala kecil dan belum kontinyu.
Pengelolaannya juga masih tradisional dan agroindustri sebagai kegiatan
di hilir belum berkembang baik. Bebeapa initiatif telah dilakukan oleh
beberapa lembaga donor bidang ekonomi, termasuk MDF pemberdayaan ekonomi
di sektor pertanian dalam upaya meningkatkan nilai tambah pertanian,
termasuk untuk komoditaas kakao dan kopi.
Beberapa upaya termasuk
merapikan mata rantai (supply chain) dari hulu ke hilir telah
dilakukan. Namun, masih diperlukan upaya berkelanjutan untuk mengangkat
beberapa komoditas unggulan tersebut sehingga menjadi sektor penghela
(leading sector) bagi perekonomian rakyat Aceh di luar Migas. Di sektor
perikanan, pengembangan industri pengolahan perikanan sangat
menjanjikan. Dengan posisi geografis Aceh di Selat Melaka yang
menguntungkan, Aceh dapat menjadi pusat pengolahan perikanan untuk
ekspor ke kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
Begitu banyak
potensi alam Aceh di luar minyak dan gas bumi. Tapi karena Aceh selama
ini termanjakan oleh sumber pendapatan pemerintah dari minyak dan gas
bumi, maka belanja pemerintah menjadi pendorong penting bagi pertumbuhan
ekonomi. Maka, potensi besar tersebut tidak direncanakan dengan rencana
strategis yang konsisten. Di luar komoditas tanaman pangan, perkebunan
dan perikanan, sumber pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata juga
belum dikembangkan secara optimal. Demikian pula sumber-sumber energi
non-migas seperti pembangkit listrik tenaga geothermal belum sepenuhnya
dieksploitasi.
Bertumpu pada kaki sendiri
Setelah
untuk sekian lama Aceh bertumpu pada dana rekonstruksi dan bantuan donor
asing, sekarang saatnya pemerintah bertumpu pada kaki sendiri. Kendati
dalam batas tertentu bantuan dari luar masih tetap diperlukan, namun
kejayaan ekonomi Aceh sangat ditentukan oleh strategi pembangunan
ekonomi oleh pemerintah Aceh sendiri. Strategi utama adalah menjadikan
pertanian dan perikanan menjadi sektor penghela pertumbuhan ekonomi yang
didukung dengan agroindustri. Modernisasi pertanian dengan skala besar
dan komersial perlu dilakukan sehingga ekonomi Aceh beralih dari sekedar
commodity-based economy menjadi pertanian yang terintegrasi dengan
industri. Dengan demikian perekonomian Aceh menjadi lebih berimbang
antarsektor.
Sumber daya alam mesti dikombinasikan dengan sumber
daya manusia yang handal. Oleh karena itu, ekonomi Aceh dalam jangka
panjang juga harus ditopang oleh kualitas manusia Aceh yang berilmu
pengetahuan dan trampil secara ekonomi. Perubahan orientasi pendidikan
dilakukan secara bertahap dan link and match pembangunan pendidikan
dengan pembangunan ekonomi. Daya saing ekonomi akan bergantung pada daya
saing sumber daya manusia. Oleh karena itu, investasi dalam bidang
pendidikan dan kesehatan (human capital) juga harus lebih fokus.
Ketergantungan
pertumbuhan ekonomi pada belanja pemerintah dikurangi dan investasi
swasta ditumbuhkan lebih cepat. Upaya-upaya mendorong pertumbuhan
investasi sektor swasta mencakup perbaikan di bidang regulasi dan
efisiensi pelayanan birokrasi, keamanan, dan keterbukaan masyarakat.
Melakukan perubahan memang seringkali, tapi kemajuan itu sendiri adalah
perubahan. Kita tunggu saja apa perubahan yang akan dilakukan dan
langkah strategis apa yang akan ditempuh. Mudah-mudahan tidak terjebak
lagi dalam yang biasa-biasa saja.
* Nazamuddin, Dosen dan Pengamat Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.
Sumber : http://aceh.tribunnews.com/2012/06/13/ekonomi-aceh-mau-kemana
Selagi ada jalan.. ya jalanlah..sebelum jalannya putus dan ditutup.. Buka hati. Buka mata.. semua ada hikmahnya
Kamis, 14 Juni 2012
Sabtu, 02 Juni 2012
Perkembangan Perekonomian Aceh
Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh
mencatat perekonomian Aceh tumbuh di atas 5% selama 2011, karena adanya
pertumbuhan positif pada semua sektor ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tertinggi
terjadi pada sektor minyak dan gas alam (migas) yaitu mencapai 5,89 persen,
sedangkan dari sector non migas ekonomi Aceh hanya tumbuh 5,02 persen. Jika
ditinjau lebih jauh, seharusnya fakta ini menjadi kabar baik bagi semua lapisan
masyarakat. Pertumbuhan ekonomi ini menandakan bahwa setidaknya Aceh sudah
mampu bangkit dari keterpurukan konflik dan bencana alam tsunami, biar
bagaimanapun faktor ekonomi merupakan salah satu alasan penting berkembang dan
majunya suatu daerah. Namun sayangnya, pertumbuhan ekonomi ini bukan menjadi
standar makmur suatu daerah atau negara. Negara atau daerah yang makmur, sudah
tentu perekonomiannya mengalami pertumbuhan, tapi tidak sebaliknya.
Hal tersebut tidak terjadi pada tahun
ini. Angka pertumbuhan ekonomi di Provinsi Aceh pada triwulan I (Januari-Maret)
tahun 2012 dilaporkan mengalami penurunan cukup tajam dibandingkan dengan
pertumbuhan triwulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
pertumbuhan ekonomi Aceh dengan minyak dan gas (migas) pada triwulan I-2012
hanya mencapai 0,83 persen dan tanpa memperhitungkan migas tumbuh sebesar 1,02
persen. Begitu juga dengan pertumbuhan tahunan, yaitu dengan migas 5,11 persen
dan tanpa migas 5,95 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas
pada triwulan IV-2011 mencapai 1,64 persen dan tanpa migas 1,49 persen. Begitu
juga dengan pertumbuhan tahunan dengan migas 4,40 persen dan tanpa migas 5,19
persen.
Pertumbuhan ekonomi Aceh pada
triwulan I-2012 disumbang oleh pertumbuhan positif pada lima sektor, dimana
tiga sektor dengan pertumbuhan tertinggi adalah keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan 6,10 persen, diikuti sektor pengangkutan dan komunikasi 3,39 persen
dan sektor pertanian 2,57 persen. Dari lima sektor, sektor keuangan, persewaan
dan jasa perusahaan tumbuh cukup tinggi, karena ditopang oleh gairah sub sektor
perbankan yang meningkat hingga 9,74 persen. Sedangkan pertumbuhan sektor
pertanian akibat pengaruh musim panen yang terjadi hampir di seluruh wilayah
Aceh pada triwulan I-2012, sehingga juga mempengaruhi sektor perdagangan, hotel
dan restoran. Sektor yang tumbuh negatif adalah pertambangan dan penggalian
sebesar minus 1,49 persen dan sektor industri pengolahan minus 0,30 persen.
Sektor ini turun akibat menurunnya produksi migas dan rendahnya permintaan
material galian karena belum optimalnya sektor pembangunan. Sementara nilai
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh dengan migas meningkat menjadi
Rp22,87 triliun pada triwulan I-2012 dan tanpa migas meningkat menjadi Rp19,19
triliun. Struktur perekonomian Aceh pada triwulan I-2012 masih menunjukkan
besarnya kontribusi migas (subsektor pertambangan migas dan industri pengolahan
migas) yang mencapai 16,09 persen. Struktur PDRB Aceh baik dengan migas maupun
tanpa migas menunjukkan bahwa dua sektor yang merupakan leading sektor bagi
perekonomian Aceh hingga pada triwulan I-2012 masih berada pada sektor
pertanian dan sektor perdagangan, hotel dan restoran. Sektor lain yang juga
menopang laju perekonomian Aceh adalah bangunan, listrik dan air bersih,
industri pengolahan, perdagangan, hotel dan restoran serta jasa-jasa.
Fakta tersebut sebenarnya menjadi
kabar baik bagi perekonomian Aceh, meski sempat bergerak positif dan kemudian
turun lagi menjadi pergerakan yang negative, namun hal ini setidaknya menjadi
bukti bahwa saat ini Aceh mampu mengembangkan geliat perekonomian, mengingat
dulunya Aceh pernah mengalami keterpurukan saat konflik dan bencana tsunami.
Namun, fakta ini menjadi tidak
relevan dalam kenyataan di lapangan, mengingat penduduk miskin yang ada di Aceh
bukan semakin berkurang seiring pertumbuhan ekonomi yang semakin positif, namun
sebaliknya penduduk miskin malah bertambah presentasenya.
Kurangnya pembukaan lapangan kerja
oleh pemerintah dianggap menjadi salah satu factor penyebab tingginya tingkat
pengangguran di Aceh yang kemudian berdampak pada tingginya angka tingkat
kemiskinan. Penduduk Aceh yang hampir 80% bergantung pada sector pertanian, juga
belum mampu memenuhi standar hidup dan nafkah keluarga. Hal ini juga menjadi
salah satu permasalahan, karena dianggap pemerintah tidak terlalu memberdayakan
petani, baik melalui sosialisasi atau berupa bantuan, mengingat sumber daya
manusia juga masih sangat rentan di beberapa wilayah di Aceh.
permasalahan
pembangunan ekonomi Aceh saat ini adalah ketidakfokusan pemerintah dalam
membangun perekonomian. Pemerintah Aceh harus memiliki fokus dengan
mengedepankan skala prioritas dalam pembangunan ekonomi Aceh. Atau dengan kata
lain pemerintah Aceh harus mempunyai (memimjam istilah yang digunakan oleh Dr
Nazamuddin dalam diskusi sebuah diskusi) ‘leading sector’ dalam pelaksanaan
pembangunan ekonomi di Aceh. Secara teoritis, keberadaan ‘leading sector’ dalam
suatu perekonomian memang diperlukan. Keberadaan ’leading sector’ dibutuhkan
untuk menjadi penggerak utama dalam pertumbuhan suatu wilayah. Keberadaan
‘leading sector’ ini nantinya juga akan menimbulkan efek ganda (multiplier
effect) dalam perekonomian daerah sehingga sektor lain juga ikut bangkit dan
mendapatkan manfaat. Selain itu, dengan fokusnya pengembangan perekonomian pada
satu sektor atau pada satu sub sektor saja yaitu pada ‘leading sector’ juga
akan memudahkan pemerintah setempat dalam menjalankan, mengontrol, mengawasi
dan mengevalausi kebijakan pemerintah terhadap pengembangan sektor tersebut.
Semoga, pemerintah mampu
mensinergikan perekonomian Aceh menjadi lebih baik kedepannya. Apalagi dalam
waktu dekat Aceh akan berada dibawah naungan pemerintahan baru. Semua pihak
berharap, adanya inovasi pembangunan perekonomian yang nantinya mampu membawa
perekonomian aceh kearah yang lebih baik, tidak hanya bagi kalangan tertentu,
tetapi juga bagi seluruh lapisan masyarakat.
Rabu, 16 Mei 2012
Selasa, 15 Mei 2012
Kisah klasik di sudut teras
Bukan tentang seberapa lama yang dijalani. Tapi tentang seberapa jauh dilalui. Ini tentang sebuah kisah klasik lama yang sebenarnya sudah usang. Saat menuju kesini, terlihat jelaga dimana mana. Berdebu, lembab, dan berbau asam. Setidaknya kadang ada beberapa cerita masalalu yang mungkin bisa dijadikan inspirasi dan itu membuat kita tersenyum bahkan termanggu sendiri. Semoga tak disangka memiliki kelainan jiwa.
Rabu, 02 Mei 2012
Pendikan dan Indonesia
Tulisan ini tiba - tiba saja terinspirasi karena hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional. Seperti biasa dan setiap tahunnya diperingati pada tanggal 2 Mai. 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional karena pada tanggal itulah lahir seorang pejuang besar, Ki Hadjar Dewantara yang mendarmabaktikan seluruh hidupnya bagi kemajuan bangsa dan Negara melalui bidang pendidikan, fikiran, keluhuran budi pekerti dan semangat kebangsaan. Sebagai penghormatan kepada cita-cita pejuang besar itulah tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Seperti slogan yang pernah Beliau utarakan "Tut Wuri Handayani".
Berbicara soal pendidikan di negara tercinta ini. Pada tahun 2012, Pemerintah RI merencanakan pengalokasian dana sebesar 20% dari anggaran APBN untuk pendidikan yang ada di negara ini. Namun apakan seluruh dana ini sepenuhnya akan mengalir ke tempat yang layak, siapa yang tau!
Jika membahas fakta fakta tentang pendidikan di Indonesia, mungkin saya belum mampu untuk mengumpulkan seluruh data secara relevan, karena tulisan ini sendiri hanya berupa pendapat saya, keprihatinan saya sebenarnya, dengan dunia pendidikan yang terjadi disekitar saya, juga disekitar kita.
Bulan April yang lalu, seluruh SMA Negri maupun Swasta seluruh Indonesia serentak melaksanakan Ujian Nasional. Ujian Nasional ini menjadi penting karena nantinya akan menjadi standar kelulusan untuk para siswa. Ujian Nasioanal berlangsung sukses tanpa hambatan. tapi entahlah apa yang ada dibalik Ujian Nasional itu sendiri.
Ujian Nasional sendiri seakan menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Bagaimana mungkin pendidikan SMA yang kita jalani selama 3 tahun hanya di tentukan oleh 3 hari pelaksanaan UN. Akhirnya karena momok yang mengerikan tersebut, konteks positif yang menjadi tujuan dilaksanakannya UN berubah menjadi hal negatif yang melibatkan semua pihak. Tidak jarang ada siswa dari berbagai sekolah yang rela menghalalkan segala cara demi kelulusan UN, meski itu harus mengorbankan nilai - nilai moral dan etika pendidikan.
Untuk di Aceh sendiri, mungkin sudah menjadi rahasia umum jika tidak semua sekolah menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam pelaksanaan UN. Ironisnya, ketika ada yang benar - benar menjunjung tinggi nilai kejujuran tersebut malah di cemooh dan di anggap sok suci.
Itu adalah salah satu bukti terpuruknya secara perlahan nilai pendidikan Indonesia. Entah siapa yang salah, namun hal ini memang terjadi dan semua orang menyadarinya.
Pendidikan adalah pondasi awal kemajuan suatu negara. Majunya pendidikan suatu bangsa dapat menjadi acuan kemajuan negara tersebut, bagaimana suatu negara akan maju jika SDMnya tidak didukung oleh pendidikan yang memandai, misalnya Indonesia. Mungkin kita bisa menyalahkan rendahnya standar pendidikan Indonesia sebagai peenghambat proses lepas landasnya Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju.
Tapi, apa yang mampu kita perbuat. Seakan akan kita telah mengkhianati titah perjuangan pendidikan KI Hadjar Dewantara ini sendiri.
Sebagai pemuda yang semoga dapat meneruskan estafet perjuangan bangsa. Semoga kita dapat terus berusaha memperbaiki bangsa. Tidak hanya memperbaiki, tapi juga berusaha untuk terus membangun Indonesia menjadi Bangsa yang berpendidikan tinggi.
Tidak perlu jauh, kita dapat membiasakan hal positif dalam pendidikan mulai dari diri sendiri. bagaimana kita bisa merubah tatanan negara jika merubah diri sendiri saja tidak mampu :)
Berbicara soal pendidikan di negara tercinta ini. Pada tahun 2012, Pemerintah RI merencanakan pengalokasian dana sebesar 20% dari anggaran APBN untuk pendidikan yang ada di negara ini. Namun apakan seluruh dana ini sepenuhnya akan mengalir ke tempat yang layak, siapa yang tau!
Jika membahas fakta fakta tentang pendidikan di Indonesia, mungkin saya belum mampu untuk mengumpulkan seluruh data secara relevan, karena tulisan ini sendiri hanya berupa pendapat saya, keprihatinan saya sebenarnya, dengan dunia pendidikan yang terjadi disekitar saya, juga disekitar kita.
Bulan April yang lalu, seluruh SMA Negri maupun Swasta seluruh Indonesia serentak melaksanakan Ujian Nasional. Ujian Nasional ini menjadi penting karena nantinya akan menjadi standar kelulusan untuk para siswa. Ujian Nasioanal berlangsung sukses tanpa hambatan. tapi entahlah apa yang ada dibalik Ujian Nasional itu sendiri.
Ujian Nasional sendiri seakan menjadi momok yang menakutkan bagi siswa. Bagaimana mungkin pendidikan SMA yang kita jalani selama 3 tahun hanya di tentukan oleh 3 hari pelaksanaan UN. Akhirnya karena momok yang mengerikan tersebut, konteks positif yang menjadi tujuan dilaksanakannya UN berubah menjadi hal negatif yang melibatkan semua pihak. Tidak jarang ada siswa dari berbagai sekolah yang rela menghalalkan segala cara demi kelulusan UN, meski itu harus mengorbankan nilai - nilai moral dan etika pendidikan.
Untuk di Aceh sendiri, mungkin sudah menjadi rahasia umum jika tidak semua sekolah menjunjung tinggi nilai kejujuran dalam pelaksanaan UN. Ironisnya, ketika ada yang benar - benar menjunjung tinggi nilai kejujuran tersebut malah di cemooh dan di anggap sok suci.
Itu adalah salah satu bukti terpuruknya secara perlahan nilai pendidikan Indonesia. Entah siapa yang salah, namun hal ini memang terjadi dan semua orang menyadarinya.
Pendidikan adalah pondasi awal kemajuan suatu negara. Majunya pendidikan suatu bangsa dapat menjadi acuan kemajuan negara tersebut, bagaimana suatu negara akan maju jika SDMnya tidak didukung oleh pendidikan yang memandai, misalnya Indonesia. Mungkin kita bisa menyalahkan rendahnya standar pendidikan Indonesia sebagai peenghambat proses lepas landasnya Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju.
Tapi, apa yang mampu kita perbuat. Seakan akan kita telah mengkhianati titah perjuangan pendidikan KI Hadjar Dewantara ini sendiri.
Sebagai pemuda yang semoga dapat meneruskan estafet perjuangan bangsa. Semoga kita dapat terus berusaha memperbaiki bangsa. Tidak hanya memperbaiki, tapi juga berusaha untuk terus membangun Indonesia menjadi Bangsa yang berpendidikan tinggi.
Tidak perlu jauh, kita dapat membiasakan hal positif dalam pendidikan mulai dari diri sendiri. bagaimana kita bisa merubah tatanan negara jika merubah diri sendiri saja tidak mampu :)
Rabu, 18 April 2012
Tentangmu yang tak akan ada habisnya
Ceritakan padaku apapun yang kau mau
Namun sayangnya lidahku kelu dan tak mampu ungkapkan rasa yang seharusnya kau tau
Aku hanya ingin bercerita tentang awan yang berarak menari bersama angin
Seperti aku yang selalu ingin mesenandung bersama hujan agar mereka tidak tau basah wajah ini sebenarnya karna tangisku merindukanmu yang dulu
Katakan padaku apapun yang mengganjalmu
Jang biarkan segalanya berlalu tanpa definisi
Lagukanlah setiap lirik kisah ini bersama pelangi, mungkin saja salah satu warnanya adalah warna kesukaanmu
Namun sayangnya aku terjebak pada utopia yang sama, buram, hanya hitam putih didalamnya
Dan kadang aku latah berharap agar kau bersedia warnai dengan aliran nafasmu
Sudah
Aku sudah mengerti kenapa ini menjadi serba sulit
Karna dari awal itu hanya ilusi fotamorgana ke hausan cintamu
Tak apa jika aku korbannya
Karna selain itu aku mau jadi apa lagi?
tetap seperti kau yang ku kenal dahulu
yang selalu bernyanyi bersama langit
yang selalu tertawa diantara riak laut
Aku mencintaimu...
Namun sayangnya lidahku kelu dan tak mampu ungkapkan rasa yang seharusnya kau tau
Aku hanya ingin bercerita tentang awan yang berarak menari bersama angin
Seperti aku yang selalu ingin mesenandung bersama hujan agar mereka tidak tau basah wajah ini sebenarnya karna tangisku merindukanmu yang dulu
Katakan padaku apapun yang mengganjalmu
Jang biarkan segalanya berlalu tanpa definisi
Lagukanlah setiap lirik kisah ini bersama pelangi, mungkin saja salah satu warnanya adalah warna kesukaanmu
Namun sayangnya aku terjebak pada utopia yang sama, buram, hanya hitam putih didalamnya
Dan kadang aku latah berharap agar kau bersedia warnai dengan aliran nafasmu
Sudah
Aku sudah mengerti kenapa ini menjadi serba sulit
Karna dari awal itu hanya ilusi fotamorgana ke hausan cintamu
Tak apa jika aku korbannya
Karna selain itu aku mau jadi apa lagi?
tetap seperti kau yang ku kenal dahulu
yang selalu bernyanyi bersama langit
yang selalu tertawa diantara riak laut
Aku mencintaimu...
Langganan:
Postingan (Atom)